Skip to main content

Posts

Dua Tangan

Manusia diberikan dua tangan, lalu untuk apa saja tangan kita digunakan? Ini cerita tentang iyan dan teman satu konsentrasi program studi, sederhana sih, tapi ada hikmahnya kok wkwk. Jadi di program studi kami, ada empat jenis konsentrasi. Konsentrasi yang iyan ambil terkenal kurang peminat karena selalu dianggap sulit oleh mahasiswa. Bukan hanya di angkatan iyan saja, tapi dari beberapa angkatan sebelumnya. Jumlah terbanyak mahasiswa yang memilih konsentrasi ini hanya empat orang, ya, empat! Tidak lebih. Tapi ya, namanya juga tertarik dengan konsentrasi ini dan tidak tertarik dengan konsentrasi lain, kita ya jalan aja. Kan belajar. Mau sesusah apapun, selama itu proses pembelajaran ya bisa dianggap normal. Awalnya biasa aja, tapi semua berubah ketika iyan merasa dikotak-kotakkan karena konsentrasi yang kita ambil. Buat apa sih? Nanti kalau lulus juga gelarnya sama, nggak akan beda sekalipun beda konsentrasi. Iyan inget banget, waktu iyan dan tiga orang teman lain (satu kon...
Recent posts

Tentang Privilege

  I don’t have any privileges!      Adalah kalimat yang sangat-sangat ingin iyan teriakin ke orang-orang di lingkungan tempat tinggalnya iyan. Kenapa? Dari kecil, dari zaman iyan masih SD, iyan selalu diintimidasi dengan omongan-omongan yang menuduh iyan, kalau iyan punya banyak privilege , entah karena bapak atau kakak. Hah! Kesel!      Iyan ingat banget, dulu waktu masih SD, ada perlombaan cerdas cermat yang diadain sama mahasiswa KKN. Terus, soal cerdas cermatnya dibuat sama kakaknya iyan (btw ini cerdas cermat dengan topik agama islam). Timnya iyan, isinya cuma anak SD dengan kemampuan biasa aja. Sedangkan tim lain, ada yang tingkat SMP dan terkenal pintar. Setelah babak penyisihan sampai final, ehh tau-tau timnya iyan yang menang. Wkwk, gak nyangka sumpah! Tapi ya, di tengah acara final, iyan malah denger sesuatu, “kan kakaknya yang buat soal, pasti dikasihtau”. What the heck! Setelah itu, iyan gak senyum sama sekali. Iyan emosi kan, kesel nih, ...

Gagalmu Punya Makna

Kemarin, rasa malas benar-benar menguasaiku. Paper belum aku selesaikan, begitu juga dengan laporan pertanggung jawaban untuk BEM Fakultas. Belum lagi aku harus ke pustik kampus untuk mengurus verifikasi pembayaran milik keponakanku. Hhh…aku bahkan terbiasa menghela napas akhir-akhir ini. Di saat pekerjaan banyak, kenapa aku mengalah pada rasa malas? Poor iyan… Akhirnya aku bangun, bangkit dari tempat tidur. Mencoba menyelesaikan pekerjaan satu demi satu. LPJ check, pustik check and last, paper. Belum selesai…wkwk. Jadi kemarin, waktu aku lagi plot grafik untuk paper, aku tiba-tiba terima chat. Chat ini dari adik kelas di Aliyah. Aku kenal dia waktu sosialisasi pendaftaran kuliah dan beasiswa di sana. Waktu aku kesana untuk sosialisasi, pe-rankingan snmptn baru-baru selesai. Dan ada banyak siswa yang nggak masuk perankingan, salah satunya adalah siswi yang chat aku ini. Kita pernah ketemu dua kali, pertama di Aliyah waktu sosialisasi, dan kedua waktu dia minta diajarin isi ...

Nggak Punya Alasan

Jujur, aku sering kebingungan di tengah proses. Dan selalu karena satu hal. Tujuan. Untuk apa aku melakukan semua ini? Untuk siapa aku melakukan semua ini? Aku seakan-akan tidak punya alasan. Dan hampir bisa dikatakan, aku tanpa tujuan. Seperti mengulang osilasi rutinitas dari pagi hingga malam hari. Kejadian ini mulai aku rasakan ketika kuliah. Dari awal tingkat tiga hingga sekarang, akhir tingkat tiga. Ketika aku memperhatikan sekitar, melihat teman-teman kelas satu angkatan dan satu konsentrasi, aku kadang “iri”. Iya, iri. Dalam tanda kutip. Aku melihat mereka, selalu berinteraksi dengan baik dengan keluarga mereka, khususnya orang tua. Dari telfon, sms, chat whatsapp atau bahkan Instagram. Semua kegiatan-kegiatan kampus, les atau sebagainya mereka ceritakan kepada ibu, bapak atau keluarga. Dengan saudara pun, mereka lepas. Dalam artian, interaksi mereka baik. Dan itu membuat aku berpikir, kok aku nggak bisa ya seperti mereka? Menurut aku, orang tua dan keluarga adalah alasan...