Kemarin,
rasa malas benar-benar menguasaiku. Paper belum aku selesaikan, begitu juga
dengan laporan pertanggung jawaban untuk BEM Fakultas. Belum lagi aku harus ke
pustik kampus untuk mengurus verifikasi pembayaran milik keponakanku. Hhh…aku
bahkan terbiasa menghela napas akhir-akhir ini. Di saat pekerjaan banyak,
kenapa aku mengalah pada rasa malas? Poor iyan…
Akhirnya
aku bangun, bangkit dari tempat tidur. Mencoba menyelesaikan pekerjaan satu
demi satu. LPJ check, pustik check and last, paper. Belum selesai…wkwk.
Jadi
kemarin, waktu aku lagi plot grafik untuk paper, aku tiba-tiba terima chat.
Chat ini dari adik kelas di Aliyah. Aku kenal dia waktu sosialisasi pendaftaran
kuliah dan beasiswa di sana. Waktu aku kesana untuk sosialisasi, pe-rankingan
snmptn baru-baru selesai. Dan ada banyak siswa yang nggak masuk perankingan,
salah satunya adalah siswi yang chat aku ini. Kita pernah ketemu dua kali,
pertama di Aliyah waktu sosialisasi, dan kedua waktu dia minta diajarin isi
data untuk beasiswanya.
Pertama
kali ketemu di madrasah, dia cerita kalau dia nggak lulus perankingan snmptn.
Siapapun, pasti kecewa. Di saat teman-teman kita lulus, tapi kita sendiri
nggak..ya wajar lah ya..aku juga dulu gitu..hehe.
I
told her, dulu, aku juga nggak lulus snmptn. Jangan patah semangat.
Di
pertemuan kedua, dia cerita bahwa ada pihak-pihak yang meragukan dia yang
mendaftar kuliah dengan beasiswa. Jujur, aku sedih dengernya. Aku bilang,
yakinkan mereka yang meragukan kamu, terutama yang meragukan kamu adalah orang
terdekatmu. Jangan marah, tapi yakinkan dengan baik-baik. Salah satu yang
membuat dia diragukan adalah, pengalaman orang lain. Pengalaman buruk orang
lain seakan menjadi patokan untuknya. “Lihat, dia dapat beasiswa, tapi nggak
bisa selesaikan kuliah. Gimana nanti kamu?”. Hmm..omongan yang sangat
menyakitkan. Pembandingan-pembandingan seperti ini, jujur aja bisa mematikan
niat baik kita. Sakit coy…
Aku
berharap banget, ini anak nggak nyerah atas keraguan orang-orang. Dulu aku
berharap besar, kalau dia berani melawan omongan-omongan ragu orang-orang dan
terus daftar kuliah dan beasiswa.
Sampai
akhirnya hpku rusak dan kita hilang kontak….
Pengumuman
sbmptn kemarin. Aku inget dia. Hari pertama, dia nggak ngechat. Dan akhirnya,
kemarin, dia ngechat.
Aku
bahagia banget dooong, dia lulus SBMPTN!!!!!!
MasyaAllah…
Dia
yang lulus, aku yang bahagia woyy…hahaha.
Dia
bisa patahin keraguan orang orang dengan lulus tes SB sambil daftar beasiswa.
Ajip memang! Wkwk.
Ada
satu kalimat chatnya yang buat aku sadar.
“...karena
motivasi kakak juga, sempat putus harapan waktu itu tapi ketemu sama kak iyan
subhanallah aku berterimakasih sekali sama Allah..”
Dia
putus harapan woy! Parah banget kan, efek omongan orang-orang :( Aku berharap,
kalau kita nggak bisa kasih semangat ke orang lain yang sedang berusaha dan
berproses, please, jangan kasih ucapan-ucapan yang bisa menghancurkan semangat
dan harapan mereka. Kita nggak tau seberapa dalam kata-kata kita menusuk
perasaan mereka..
Kalimat
chatnya buat aku sadar. Gagalku punya makna. Semua kegagalan yang aku terima,
nyatanya punya makna. Untuk orang lain.
Zaman
SMP dulu aku pernah baca, kita diciptakan bukan karena kita butuh, tapi karena
orang lain membutuhkan kita.
Kalau
dulu aku sekolah ambil teknik gambar bangunan di SMK, aku nggak akan pernah
bisa ketemu mereka di madrasah Aliyah. Kalau dulu aku lulus SNMPTN, aku nggak
akan bisa kasih motivasi ke mereka yang akan berjuang SBMPTN. Kalau dulu orang
tua izinin aku kuliah di Malang, aku nggak akan pernah bisa hadir sosialisasi
ke setiap angkatan yang akan lulus di madrasah. Kalau aku lulus di program
studi biologi bukan fisika, aku nggak bisa kasihtau ke mereka bahwa semua
jurusan/program studi itu baik, tergantung kita nanti gimana belajarnya. Kalau
dulu aku nggak gagal, aku nggak bisa bahagia lihat adik-adik kelasku berani
berjuang demi mimpi merkea. Kalau dulu aku nggak gagal, nggak ada kata
termotivasi dari mereka..
Sampai
disini aku berpikir, kita hidup benar-benar untuk orang lain..
Aku
bilang ke dia, kamu luar biasa. Nanti, bukan aku yang harus kasih motivasi lagi
ke adik-adik kelas di madrasah. Sudah waktunya kamu, kamu yang akan berbagi
perjuanganmu ke mereka.
Jujur,
aku merasa kalah banget dari dia :)
Untuk
diriku sendiri, sedih ketika gagal itu wajar. Kamu masih punya hati dan air
mata. Tapi cukup sehari, lalu besoknya kamu harus bangkit lagi. Semua kegagalan
yang kamu rasakan, itu punya makna. Bukan sekarang, tapi nanti. Untuk
orang-orang yang akan masuk di kehidupanmu. Jangan takut gagal ya, tanpa kamu
gagal, kamu nggak bisa bermanfaat untuk
orang lain..
Untuk
kamu yang sedang gagal, yakinkan hati kamu untuk bangkit dan semangat. Allah
sedang bilang, belum waktunya. Ayo bangun, nggak usah buru-buru tapi kamu
nikmati prosesnya. Coba lagi, coba lagi,
coba lagi, sampai Allah bilang, sudah waktunya.
Comments
Post a Comment