Skip to main content

Dua Tangan

Manusia diberikan dua tangan, lalu untuk apa saja tangan kita digunakan?

Ini cerita tentang iyan dan teman satu konsentrasi program studi, sederhana sih, tapi ada hikmahnya kok wkwk.

Jadi di program studi kami, ada empat jenis konsentrasi. Konsentrasi yang iyan ambil terkenal kurang peminat karena selalu dianggap sulit oleh mahasiswa. Bukan hanya di angkatan iyan saja, tapi dari beberapa angkatan sebelumnya. Jumlah terbanyak mahasiswa yang memilih konsentrasi ini hanya empat orang, ya, empat! Tidak lebih.

Tapi ya, namanya juga tertarik dengan konsentrasi ini dan tidak tertarik dengan konsentrasi lain, kita ya jalan aja. Kan belajar. Mau sesusah apapun, selama itu proses pembelajaran ya bisa dianggap normal.

Awalnya biasa aja, tapi semua berubah ketika iyan merasa dikotak-kotakkan karena konsentrasi yang kita ambil. Buat apa sih? Nanti kalau lulus juga gelarnya sama, nggak akan beda sekalipun beda konsentrasi.

Iyan inget banget, waktu iyan dan tiga orang teman lain (satu konsentrasi) dipecah sekaligus ditunjuk sebagai ketua kelompok di kelas. Dalam hati iyan protes, lah lah, kok gini? Kok anak teori komputasi sih yang jadi ketua? Kan bisa anak-anak konsentrasi lain? Toh juga kita sama aja.

Tapi tunggu, itu semua terjadi karena anak teori komputasi dianggap paling bisa di antara yang lain. Yang paling pinter. Yang berada di atas yang lain. Panutan. Yang kalau mau nolak bakal dibilang, “masak anak teori komputasi gak bisa?”. Wah…iyan speechless dengernya.

Rasanya pengen berontak sih wkwk. Jelas-jelas ini bentuk beban moral. Dan mau nggak mau kita juga harus bertanggung jawab. Ya jadinya cuma bisa protes dalam hati trus nangis-nangis di hari kemudian wkwk.

Sampai sekarang (tahun ke-empat perkuliahan), iyan masih penasaran, emang gimana sih kelihatannya anak teori komputasi dari luar? Selama ini yang iyan sama temen-temen lakuin ya sama saja kayak yang lain. Bahkan hal-hal seperti bolos, telat masuk kelas, lupa ada tugas, lupa jadwal ujian, males masuk kelas, tidur waktu jam pelajaran, ngatur strategi biar nggak belajar, kucing-kucingan sama dosen juga kita lakuin. Trus kenapa harus anak teori komputasi sih yang punya beban moral kayak gitu?

Akhirnya, iyan nanya ke temen yang ambil konsentrasi lain. Trus jawabannya bikin iyan ketawa: pintar, di atas rata-rata, panutan, apa-apa bisa, bikin kagum, image-nya udah bagus. Asli, ini iyan ketawa. Trus dia bilang, bolos udah wajar, dan dia nggak ngelihat itu. Yang dilihat ya, image mahasiswa baik-baik yang bisa dijadiin panutan.

What the…

Tapi dia nyadarin iyan satu hal, semua orang punya pandangan masing-masing. Kita nggak bisa menghalangi dan mengendalikan itu. Iya kan? Gak mungkin kan kita bakal bilang satu-satu ke setiap orang, jangan gitu dong, saya biasa aja. Yang mereka simpulkan tentang kalian kan apa yang biasa mereka lihat pada kalian.

Mereka hanya mengagumi dan menjadikan kalian panutan, bukan hal buruk. Bagaimana menyikapinya, itu yang harus kalian pelajari. Kalian ingin terlihat seperti apa, ya itu yang ditunjukkan. Kita nggak bisa nutup mata setiap orang. Kita nggak bisa nutup mulut setiap orang. Tapi kalian punya dua tangan, untuk menutup telinga ketika apa yang kalian dengar membuat kalian tidak nyaman. Kalian punya dua tangan, yang akan membantu kalian untuk bertindak sesuai dengan keinginan kalian. Karena kalian cuma punya dua tangan yang nggak akan bisa nutup semua pendapat orang lain, kalian bisa menggunakan dua tangan itu untuk belajar menyikapi pandangan orang-orang tersebut.

Comments