Jujur, aku sering kebingungan di tengah proses. Dan selalu
karena satu hal. Tujuan. Untuk apa aku melakukan semua ini? Untuk siapa aku
melakukan semua ini? Aku seakan-akan tidak punya alasan. Dan hampir bisa
dikatakan, aku tanpa tujuan. Seperti mengulang osilasi rutinitas dari pagi
hingga malam hari.
Kejadian ini mulai aku rasakan ketika kuliah. Dari
awal tingkat tiga hingga sekarang, akhir tingkat tiga. Ketika aku memperhatikan
sekitar, melihat teman-teman kelas satu angkatan dan satu konsentrasi, aku
kadang “iri”. Iya, iri. Dalam tanda kutip.
Aku melihat mereka, selalu berinteraksi dengan baik
dengan keluarga mereka, khususnya orang tua. Dari telfon, sms, chat whatsapp
atau bahkan Instagram. Semua kegiatan-kegiatan kampus, les atau sebagainya
mereka ceritakan kepada ibu, bapak atau keluarga. Dengan saudara pun, mereka
lepas. Dalam artian, interaksi mereka baik. Dan itu membuat aku berpikir, kok
aku nggak bisa ya seperti mereka?
Menurut aku, orang tua dan keluarga adalah alasan
mereka untuk terus melangkah. Mengejar mimpi dan cita-cita. Orang tua yang
selalu menguatkan mereka. Mereka ingin membahagiakan orang tua. Mereka ingin
berbakti kepada orang tua. Tapi aku? Jauh banget dari mereka.
Aku tipe orang yang ambievert. Kalau belum kenal,
pendiam. Kalau sudah kenal, rusuhnya luar biasa. Tapi, di rumah, atau di
lingkungan keluarga, aku jadi pendiam. Entah kenapa. Frekuensi aku ngobrol sama
ibu, bapak, adik atau kakak itu bisa dihitung dengan jari dalam sehari. Karena kuliah
juga, jadi pulangnya sore atau malam. Frekuensi ketemunya juga kecil. Karena di
rumah aku ngobrolnya sedikit, jadi “jatah” bicara yang di rumah, aku pakai saat
kuliah, jadilah aku banyak bicara di kampus.
Aku jarang bicara sama ibu. Apalagi sama bapak. Jujur,
aku nggak pernah bicara tentang kuliah sama mereka. Aku hampir nggak pernah
bicara mengenai ujian sama mereka. Dan aku selama tiga tahun kuliah ini, nggak
pernah ditanya mengenai nilai/IPK sama orang tua. Dan karena aku tipe orang
yang bakal cerita kalau ditanya, aku juga nggak pernah serahin KHS ke orang tua
ku.
Parah nggak sih?
Bisa dibilang, hubunganku sama mereka biasa-biasa
aja. Nggak romantis ya, hehehe. Aku hampir nggak pernah dituntut apa-apa sama
mereka. Mereka juga nggak pernah nyuruh aku belajar. Aku kuliah ya, kuliah. Dijalanin
sendiri. Nangis ketika down, ya nangis. Nggak pernah cerita atau ditanya sama
orang tua. Beda banget sama beberapa teman yang aku lihat, their parent
benar-benar perhatian sama mereka. Bahkan ya, aku punya teman, ibunya
benar-benar memberi perhatian khusus ke dia ketika dia ujian. Hehehe, aku ujian
minta do’a sebelum berangkat aja baru dua kali. Wkwkwk, parah!
Karena kurangnya interaksi ini mungkin, aku sering
merasa nggak punya tujuan dan alasan. Aku merasa, karena orang tua nggak pernah
menuntut, jadi aku yaudah, kuliah aja. Tapi aku yang bingung, kalau sampai
sekarang masih merasa nggak punya alasan untuk berjuang di kuliah. Ketika teman-teman
kelasku berjuang dengan alasan ingin membahagiakan orang tua, lah aku? Ngobrol sama
orang tua aja jarang, gimana mau membahagiakan? Bingung sendiri kan.
Salah aku juga, yang jarang memulai komunikasi. To be
honest, aku susaaaahh banget untuk memulai percakapan dengan keluarga. Lebih susah
dari ujian fisika kuantum-_-. Tapi, beberapa kali, aku memaksa diri untuk
menjadikan apa yang aku perjuangkan di kuliah, adalah sebagai usaha untuk
membahagiakan dan membuat mereka bangga. Sekalipun mereka nggak tau atau belum
sesuai harapan mereka (yang sama sekali aku nggak tau apa harapan mereka). Sekalipun
beberapa kali semangatku surut, tapi aku berharap, suatu saat nanti, from my
deepest heart, mereka akan jadi alasanku untuk berjuang dan menggapai
mimpi-mimpi yang pernah aku tuliskan. Aku memang bisa dibilang, “tidak akur”
dengan mereka, tapi, aku sayang sama mereka.
Dengan “iri”nya aku sama teman-teman kelasku, aku
bisa sadar, bahwa aku juga butuh alasan untuk berjuang. Dan alasan yang memang
harus aku punya adalah mereka, orang tua ku. Kalau Allah udah pasti ya :) kita semua pasti menjadikan-Nya alasan untuk segala
sesuatu yang kita perjuangkan.
Bu, pak. Anaknya ibu bapak ini bukan pengungkap
perasaan yang handal, wkwk. Paling ngungkapinnya diam-diam kayak gini, hehe. Aku
kadang malas, marah sama keadaan, nggak mau berjuang, sedih, down dan segala
perasaan lainnya. Tapi, dari lubuk hatiku yang paaaliiiinggg dalam, aku pengen
banget, lihat ibu bapak bahagia. Semoga, di masa depan, aku bisa membahagiakan
kalian :)
Comments
Post a Comment