Ada yang berani menghadapi dunia sendirian. Ada yang berani jika bersama teman. Kita bebas menentukan pilihan. Tapi ingat, kita tidak bebas memilih konsekuensi dari pilihan.
Berani berjalan sendiri atau berjalan bersama, sama-sama punya konsekuensi.
Jika kamu berjalan sendiri, kamu hebat. Kamu memulainya dengan keadaan yang memaksamu untuk berani melangkah tanpa orang lain di sisi. Keadaan itu hanya memaksa sekali, namun hasilnya, kamu berani mengulanginya berulang kali. Berjalan sendiri membuatmu kadang terlihat sepi. Dinilai kurang berinteraksi. Kurang komunikasi. Padahal, kamu bukan seseorang yang tertutup. Kamu terbuka, pada siapa saja yang ada di lingkaranmu. Hanya saja, entah mengapa, sendiri melewati hari pada waktu-waktu tertentu memberikanmu kebahagiaan. Kebebasan. Kesendirian dan kesunyian khusus yang kamu ciptakan memberikanmu ruang untuk memandang dunia dari berbagai sudut pandang. Kamu bebas. Menelaah, menghayati, dan berdialog dengan alam hingga Tuhan yang Maha Tinggi. Kamu tidak perlu memaksa diri, untuk menjadi seseorang agar diterima di lingkunganmu sendiri. To belong somewhere, kadang-kadang terdengar kejam. Apa salah menjadi diri sendiri? Apa menjadi diri sendiri tidak bisa membuat kita diterima? Berani menghadapi dunia sendiri bukan berarti benar-benar sendiri. Kamu berkawan. Punya lingkaran. Tapi tidak bergantung akut pada mereka. Kamu berani melewati koridor sendiri. Duduk di depan kelas sendiri. Ke perpustakaan sendiri. Ke toko buku sendiri. You do it by your self, and for your self. Kamu bisa berkawan, namun tak takut untuk menghadapi dunia sendirian.
Berkawan adalah pilihan. Menghadapi dunia bersama-sama juga pilihan. Punya teman banyak, adalah hal yang menyenangkan. Kita dapat berinteraksi dan berkomunikasi dengan banyak orang. Tapi tentu, kita harus selektif, dengan siapa kita harus berteman. Choose them, yang akan memberi kita lingkungan yang positif, pelajaran sehari-hari yang positif juga. Pertemanan sehat, singkatnya. Note pentingnya adalah, jangan biarkan diri kita bergantung pada orang lain. Jangan. Waktu berputar, teman akan bertukar. Ketika kita bergantung pada seseorang, bagaimana nanti jika kita dihadapkan pada kondisi yang memaksa kita sendiri? Tanpa teman yang sudah kita kenal dekat? Rasanya aneh, tidak nyaman, ingin segera keluar. Sekalipun tidak semua orang mengalami ini, tapi tetap saja, ada yang mengalaminya. Jadi, sekalipun berteman, kadang-kadang kita harus bisa belajar sendiri. Untuk mengantisipasi, kondisi yang sudah disebutkan sebelumnya. Manusia memang makhluk sosial, itu pasti. Tapi belajar berjalan sendiri, bukan sesuatu yang harus dikritisi. Salah memilih teman saja, kita sudah salah pergaulan. Banyak yang bilang, “Itu kan dia, bukan saya”. Oke, dunia ini tentang dua hal. Kalau kita tidak menyerang, kita yang akan diserang. Kalau kita tidak memberi pengaruh, kita yang akan dipengaruhi. Boleh jadi, kamu bilang, itu dia, bukan kamu. Tapi kalau kamu diam saja, tidak menasihati jika teman pergaulanmu mengerjakan hal yang tidak baik, kamu yang akan dipengaruhi nantinya. Bahkan seseorang pernah berkata, tell me who is your friend, and I will tell you how is your future (kurang lebihnya seperti itu). Jadi kentara sekali bukan, seberapa berpengaruh teman pergaulan dan lingkungan terhadap siapa kita dan bagaimana kita hidup. Last, anak gaul. Kita kadang illfeel atau risih melihat anak-anak sok gaul yang kadang tidak sadar kondisi ekonomi keluarga sendiri. Kalau dia memang berasal dari keluarga berada, silahkan. Tapi tidak disarankan. Bagaimana jika berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja? Atau bahkan kekurangan? Kembali ke judul, to belong somewhere. Untuk diterima. That’s why saya merasa, “untuk diterima” kadang kadang kejam. untuk anak anak gaul atau yang memaksa diri gaul, mereka dihadapkan pada pilihan, diterima atau tidak diterima. Jika mereka ingin diterima, mereka harus merubah diri mereka, mengikuti tuntutan lingkaran pergaulan mereka. Pencitraan. Banyak yang menyebut seperti itu. Mereka boleh saja pencitraan, tapi pencitraan yang mereka lakukan adalah upaya agar mereka diterima.
Karena itu, kita butuh belajar untuk sendiri. Kalau kita berani untuk sendiri, kita bisa menjadi diri sendiri. Tidak perlu memaksakan kondisi agar diterima oleh orang lain. Agar diterima oleh lingkungan pergaulan mereka. No need, kalau kita berani untuk belajar tidak bergantung pada orang lain. Just be your self. Suatu saat kita harus berani bilang, I belong my self atau I belong nothing.
Comments
Post a Comment